Penampilan Itu Tetap Penting

Penampilan memang cerminan sosok dan citra diri yang sangat berperan terhadap penilaian orang lain terhadap kita. Pentingnya penampilan itulah yang membuat kita mampu meningkatkan rasa kepercayaan diri yang tinggi agar dapat mengekspresikan kompetensi yang dimiliki. Loh kok bisa, Kenapa? Ya karena bagi cacan penampilan bisa dikatakan sebagai salah satu elemen penting bagi kehidupan kita dan penampilan jugalah yang menjadi kesan pertama yang akan dilihat oleh orang lain untuk menilai kita.

Dengan pernyataan seperti itu, apakah salah dengan pepatah yang sering kita dengar “Don’t judge the book by its cover” Jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja, atau jangan menilai orang dari luarnya saja. Sebenarnya sih itu tidak sepenuhnya salah tapi tidak akan berlaku untuk menjadi kesan pertama. Apakah orang yang baru pertama kenal itu akan tahu bahwa kita ini orang yang baik jika dipertemuan pertama penampilan kita justru mencerminkan seseorang yang sebaliknya?

Banyak peristiwa yang saya alami yang ada hubungannya dengan hal ini, seperti saat masih menjadi Mahasiswa. Saat itu untuk yang pertama kali saya mengantar pacar (sekarang mantan) pulang kerumahnya, setelah tiba didepan rumah, orang tuanya pun menyambut gembira dengan senyuman karena anaknya pulang dengan selamat. Tapi ada yang sedikit janggal, yaitu tatapan ayahnya seolah-olah tidak menyukai dengan penampilan yang dia lihat pada diri saya ini sehingga (mungkin) dia menilai kepribadian saya penuh dengan keburukan, karena saat itu saya mengenakan pakaian yang mencerminkan bahwa diri saya itu orang yang buruk dengan celana dan jaketnya penuh robekan ditambah accesoris seperti gelang yang menempel di bagian tubuh.

Ternyata tidak butuh waktu lama untuk meluruskan penilaian ayahnya, karena saat itu mungkin ayahnya ingin mengetahui dan menguji sejauh mana pengetahuan agama saya, sehingga ditunjuk untuk menjadi imam sholat maghrib yang dimakmumi oleh keluarganya. Dengan bekal pengalaman, saya pun tidak begitu tegang untuk menuruti kemauan beliau untuk menjadi imam. Setelah sholat selesai, saya pun kaget dengan ayahnya yang memberi senyuman pertama, senyuman yang belum saya lihat sebelumnya.

Setelah itu kamipun mengobrol diruang tamu yang topik obrolannya lebih menekan kearah penampilan yang ada pada diri saya, yang katanya penampilannya tidak sesuai dengan orangnya. Sehingga ayahnya berasumsi seperti apa yang sudah saya tulis diatas “ternyata benar melihat kepribadian seseorang itu tidak harus lihat dari penampilannya” berhubung saat itu saya ingin membela diri jadi saya mendukung dengan pernyataannya bahwa kita jangan menilai orang dari penampilannya. Tapi untuk saat ini pasti saya akan mengatakan bahwa penampilan itu tetap mencerminkan kepribadian seseorang, masih mau Tanya kenapa? Ya pastinya penampilan itu tetap menjadi kesan pertama yang akan dilihat oleh orang lain untuk menilai kita.

Begitulah peristiwa yang menonjolkan bahwa kesan pertama orang lain dalam menilai kita itu pasti akan lewat penampilan meskipun tidak butuh waktu lama orang lain akan mengetahui kepribadian kita, itupun harus dengan situasi yang pas agar orang lain memahami tentang kepribadian kita. Seperti peristiwa yang sudah diceritakan diatas, penilaian buruk ayahnya dia seolah-olah salah dalam menilai kepribadian lewat penampilan yang mencerminkan bahwa saya ini adalah seorang berandalan yang suka mabuk-mabukan dan tidak mengerti tentang ilmu agama, tetapi penilaian itu hanya bertahan sebentar setelah ditugasi menjadi imam sholat dirumahnya.

Selain itu saya juga memiliki peristiwa yang sama, peristiwa ini telah menyadarkan bahwa penampilan itu memang benar-benar penting. Ketika hendak pulang dari lebak bulus menuju Ciputat dengan Angkot, terdapat pemandangan yang tidak menyenangkan buat saya, karena saat saya naik dan duduk didekat pintu, semua penumpang angkot bergeseran dan ada yang duduknya pindah, ini bukan karena angkotnya penuh dengan penumpang tetapi mereka risih karena penampilan saya yang dari ujung rambut hingga kaki seperti orang berandalan “na’udzubillah”.

Mungkin ada yang mengira saya ini copet ataupun rampok karena saat itu ada penumpang ibu-ibu yang memegang tasnya begitu erat, terlebih penumpang itu tepat berada disamping saya, padahal penumpang yang disebelah jaraknya cukup untuk satu penumpang lagi tetapi si penumpang ini selalu waspada terhadap saya, terkadang penumpang itu memegang saku dibelakang untuk memastikan bahwa dompetnya itu aman. Bagi saya itu merupakan hal yang wajar jika ada penumpang yang risih terhadap seseorang yang penampilannya (pada saat itu) seperti saya.

Setelah itu mari kita berandai-andai, hehehe… seandainya ya pada saat itu saya dianiaya oleh para penumpang hingga wajahnya babak belur karena saat itu (seandaianya) ada penumpang lain yang kehilangan dompetnya, jadi berhubung penampilan saya saat itu selayaknya preman semua penumpang pun tidak butuh waktu lama untuk menunjuk bahwa saya ini adalah pencopet. Meskipun tidak terbukti salah tetapi rasa sakit itu pasti akan membekas. Dan akan berpikir dua kali jika ingin menuntut para penumpang itu, karena saya juga akan menyalahkan diri sendiri dan menyesal telah berpenampilan selayaknya preman.

Kenapa demikian? Karena orang yang tidak kenal (ditempat umum) pasti akan menilai kita itu lewat penampilan yang ada pada diri kita. Dengan penampilan yang lebih sopan orang lain akan mudah untuk mendekati kita beda halnya dengan orang yang penampilannya mencerminkan seorang preman, orang lain akan lari terlebih dahulu, sebelum kita mendekatinya.

Memang benar masih ada orang yang tertipu dengan penampilannya, ada orang yang berpenampilan pejahat tapi dalam hatinya baik dan ada juga sebaliknya, terlebih sekarang banyak para penjahat cukup jeli dengan berpenampilan yang mencerminkan orang baik. Seperti para pejabat yang penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki tampilannya begitu rapih tetapi kita tidak tahu kalau pejabat itu ternyata korupsi dan contoh lainnya ada seorang yang berpenampilan selayaknya seorang pengemis sehingga terkena razia Satpol PP tetapi pas diperiksa ternyata orang tersebut adalah seorang ustadz yang kebetulan lewat dengan penampilan selayaknya orang pengemis.

Setelah membaca cerita ini, pasti temen-temen menyimpulkan bahwa berpenampilan baik belum tentu hatinya juga baik dan orang yang berpenampilan jahat belum tentu isi hatinya juga jahat. Begitu kan? Pernahkah temen-temen berpikir kenapa orang tahu bahwa pejabat itu koruptor? Lihat lah dengan penampilannya yang menjadi magnet sendiri untuk orang lain, sehingga banyak orang-orang yang begitu dekat sehingga berbincang satu sama lain dan ternyata eh ternyata bahan bincangannya mengarah ke korupsi. Jadi dengan mudah orang yang tidak suka dengan tujuan jabatannya dia pun langsung melaporkannya ke pihak berwajib. Demikian pula dengan orang yang berpenampilannya seperti pengemis itu, saat di razia oleh satpol PP dengan kekerasan padahal setelah diperiksa bahwa orang itu adalah seorang ustad yang begitu dihormati dilingkungannya. Pernahkah sobat berpikir seperti itu?

Contoh mudahnya seperti ini, misalkantemen-temen hendak pergi dengan kendaraan pribadi ke alamat yang belum pernah dikunjungi, saat ditengah perjalanan temen-temen tersesat dan pasti akan bertanya kepada orang lain untuk menanyakan alamat yang dituju (misalkan) disitu ada dua orang yang jaraknya agak berjauhan, satu orang berpenampilannya alim yang mencerminkan orang baik dan satu orang lagi berpenampilan sangar layaknya preman. Jika keadaannya seperti itu, temen-temen akan bertanya orang yang mana? saya yakin pasti temen-temen akan bertanya kepada orang yang penampilannya mencerminkan orang baik. Betul kan?

Terserah ingin berpenampilan seperti apa yang temen-temen inginkan, saya hanya menyarankan bahwa kita hidup dibumi ini tidak sendirian. Jadi jika dikritik oleh orang lain tentang penampilan yang ada pada diri kita, janganlah langsung marah. Lebih baik kita bertanya dulu pada diri sendiri tentang penampilan yang ada pada diri kita, apakah penampilannya sesuai dengan apa yang ada dilingkungan atau tidak? Dan jawabannya itu ada pada diri kita sendiri.

Comments